Salju Pertama di Shirakawa-Go

Dari semua tempat yang saya kunjungi di Jepang, salah satu tempat yang paling berkesan buat saya adalah Shirakawa-Go. Meskipun awalnya tempat ini adalah tujuan Plan-B, karena saya membatalkan semua itinerary saya ke Tokyo, dan pada akhirnya saya memutuskan Shirakawa-Go ini menjadi penggantinya. Shirakawa-Go yang terletak di perfektur Gifu di Jepang ini adalah salah satu desa bersejarah di Jepang, UNESCO sampai memberikan desa ini penghargaan sebagai salah satu UNESCO World Heritage Site pada tahun 1995 karena keindahan dan kekayaan nilai budayanya. Ciri khas yang sangat dikenal dari Desa Shirakawa-go adalah bangunan rumahnya yang berukuran kecil dan memiliki bentuk atap seperti tangan orang sedang berdoa yang disebut rumah “Gassho-Zukuri”. Seluruh konstruksi rumah Gassho-zukuri ini menggunakan kayu dan jerami untuk atapnya. Meskipun menggunakan kayu dan jerami, desain atap ini sangat kuat dikarenakan pada musim salju atap rumah Gassho-Zukuri akan melindungi rumah ini dari salju yang sangat tebal. Wajar saja di desain kaya gitu, di Shirakawa-go ini curah hujan salju nya salah satu yang paling tinggi di Jepang.

Gassho-zukuri_farmhouse-01
Rumah Gassho-Zukuri (source : wikipedia.com)

Perjalanan ke Shirakawa-Go

Untuk ke Shirakawa-Go, saya dan istri ikut paket tour milik J-Hoppers Backpacker Hostel, yaitu J-Hop Tour, keterangan dan biaya untuk tournya bisa lihat di sini dan sini  . Kami memilih package Room and Tour yang 2 Night 1 days, di package ini kamu bakal dapat  fasilitas kamar selama semalam di J-Hoppers Takayama dan besoknya akan ikut Shirakawa-Go Half Day Bus Tour. Kalau kamu berangkat dari Osaka atau Kyoto seperti kami, di website J-Hoppers akan diarahkan untuk memesan bus menuju Takayama melalui willerexpress. Takayama adalah kota terdekat dengan desa Shirakawa-go, juga terletak di perfektur Gifu. Sebagian besar turis atau traveler yang ingin mengunjungi Shirakawa-go pasti singgah atau menginap di kota ini terlebih dahulu. Selain karena penginapan di Desa Shirakawa-go yang terbatas dan lebih mahal, di Takayama juga lebih mudah mencari makanan, dan kotanya sendiri pun cukup menarik untuk di explore.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
bus untuk ke Takayama

Bus yang kami gunakan untuk perjalanan ke Takayama dari Kyoto cukup nyaman, dan selama perjalanan kami hanya stop satu kali di salah satu rest area. Pemandangan yang ditawarkan selama perjalanan ini pun tidak kalah bagusnya, saya benar-benar menikmati pemandangan di luar bus yang memperlihatkan kota-kota kecil dan juga pedesaan di Jepang. Selama perjalanan ini kamu akan melewati beberapa terowongan panjang yang membelah bukit/pegunungan, ada hal yang cukup unik yang saya lihat di perjalanan ini, yaitu perubahan pemandangan dari pepohonan kekuningan khas musim gugur menjadi gunung dan pohon pinus yang sudah mulai diselimuti warna putih, yang menjadi penanda bahwa kami sebentar lagi akan sampai ke kota Takayama.

Sebagai informasi, kalau mau merasakan pengalaman serupa, kamu bisa ke Jepang pada awal Desember, di tanggal-tanggal segitu, sebagian area di Osaka dan Kyoto masih bernuansa musim gugur, meskipun daun maple oranye-nya sudah mulai beruguguran. Tetapi di kota lain seperti Takayama ini sudah mulai turun salju. Jadi kamu bisa merasakan suasana dua musim sekaligus.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
sudah dekat ke Takayama!

Saya dan istri sampai di Takayama pada pukul 12 siang, dari tempat pemberhentian bus di Hida Plaza Hotel Takayama saya masih harus berjalan kaki sekitar 700 meter menuju J-Hoppers Hostel tempat saya dan istri menginap. Hari saya di Takayama saat itu banyak dihabiskan untuk beristirahat karena di hari-hari sebelumnya jadwal saya dan istri benar-benar padat, terlebih istri sedang hamil dan butuh istirahat lebih. Kami hanya berjalan-jalan sedikit di Takayama yang cukup sepi untuk ukuran kota, sambil mampir ke mini market untuk beli sarung tangan tambahan buat istri yang kedinginan, sambil menunggu istri memilih-milih sarung tangan yang cocok, saya pun tergoda untuk jajan susu hangat ditambah onigiri sebagai cemilan.

Half Day Tour Shirakawa-Go

Capture
peta dari J-Hop Tour

Perjalanan ke Shirakawa-go dimulai esok paginya. Saya dan istri menuju bus stop sesuai petunjuk peta yang diberikan oleh J-Hoppers, lokasinya tidak jauh dari Takayama Station, cukup berjalan sekitar 200 meter. Pagi itu cukup dingin di Takayama, kami sudah prepare dengan menggunakan kostum lengkap jaket tebal plus sarung tangan. Kami pun sampai di halte sebelum bus datang, ada beberapa traveler lain yang juga menunggu bersama kami. Saat bengong-bengong sambil menunggu di bus stop, saya seperti melihat wajah yang familiar, saya pun melirik-lirik sedikit karena takut salah orang. Dengan agak canggung, saya beranikan diri manggil orang dengan wajah familiar tersebut, “Naf!”, seketika dia menengok, syukurlah saya ga salah orang, dengan nada heboh dia langsung membalas sapaan saya “Laaah, kok bisa disini jugaa???” “Ini ada kak Nat juga disini” katanya, tiba-tiba di balik bus nongol lagi satu orang yang saya kenal, Natasya, yang langsung nyeletuk “Femtooo, kok bisa barengan kita!”. Dua orang yang saya kenal ini adalah Nafzia dan Natasya, dua-duanya teman kantor saya dan satu angkatan saat pendidikan dulu di Simprug, Jakarta. Kami pun berbincang dan ketawa-ketawa dengan obrolan nostalgia khas teman seangkatan yang sudah lumayan lama ga ketemu. Ternyata mereka juga menginap di hostel yang sama dengan saya dan istri, dan dua teman saya ini juga ikut J-Hop Tour, tetapi mereka memulai perjalanan dari Kanazawa, dan sebelumnya mereka dari Tokyo. Sebuah kebetulan yang luar biasa, bisa sama hari ikut tournya!

Setelah ngobrol-ngobrol sama Naf dan Nat, kami langsung sama-sama naik ke bus-nya Half Day Tour Shirakawa-Go, di bus kami langsung disambut sama Tour Guide Jepang yang bisa bahasa inggris, namanya Yamamoto, logatnya lucu, dan orangnya juga lumayan lawak. Kami pun dibuat senyum-senyum sama lawakannya yang kadang jayus. Selama perjalanan di bus, Yamamoto-san menjelaskan sejarah dan segala hal tentang Shirakawa-go. Perjalanan dari Takayama ke Shirakawa-go memakan waktu satu jam, selama di bus kami banyak bertanya sama Yamamoto-san, kami juga diberi kesempatan untuk foto bareng boneka maskot perfektur Gifu, yaitu boneka Sarubobo.  Tak terasa sudah hampir satu jam perjalanan kami lalui, kami pun mulai masuk ke jalan yang agak kecil dan menanjak, ternyata sebelum masuk ke desa untuk berkeliling, bus mengantarkan kami terlebih dahulu ke Observation Point, titik dimana kami bisa melihat keseluruhan pemandangan Desa Shirakawa-go yang indah dari atas. Kami beruntung saat itu karena jalur menuju observation point masih dibuka, biasanya kalau sudah mulai musim dingin dan terutama setelah turun salju lebat, jalur ini akan ditutup dan bus tidak bisa lewat dikarenakan jalannya yang sempit, terjal, dan slippery. Satu kata buat pemandangan Shirakawa-Go dari Obervation Point, pecah sob! buat saya yang baru kemarin harinya pernah lihat salju, ini pemandangan yang luar biasa banget, rumah-rumah tradisional Gassho-Zukuri dengan background gunung-gunung bersalju serta hutan pinus menjadi kombinasi dan objek fotografi yang sangat menarik. Konon kalau malam hari pemandangan menjadi lebih indah karena iluminasi cahaya dari lampu-lampu di desa Shirakawa-Go, namun pemandangan di siang hari ini sudah cukup memuaskan saya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
shirakawa-go from observation point

Setelah menikmati pemandangan di Observation Point peserta tour diantarkan menuju area parkir Seseragi di Desa Shirakawa-go, dari sini kami tinggal menyebrang melalui jembatan gantung untuk masuk ke desa. Di desa ini peserta diberi free time selama 2 jam. Waktu yang sangat cukup untuk mengelilingi desa yang tidak terlalu besar. Saya dan istri tidak lupa berfoto-foto di sekitar rumah-rumah Gassho Zukuri yang khas, kami pun mencoba masuk ke beberapa rumah Gassho-Zukuri, ada beberapa yang sudah berubah menjadi toko, bahkan ada yang menjadi museum.

Di salah satu rumah kami mencoba sajian teh tradisonal khas Jepang dan juga cemilannya. Kami juga menghangatkan diri di tungku perapian khas jepang. Setelah puas merasakan sedikit hidup bak warga desa Shirakawa dan melihat langsung isi rumah mereka, gak lupa saya dan istri membeli pernak-pernik khas Shirakawa-Go, istri beli gantungan kunci bentuk rumah Gassho Zukuri, sedangkan saya sudah lupa waktu itu beli apa (lah). Ohiya, saking lamanya kami berkeliling, saat kami lagi jalan santai untuk balik menuju area parkir, Yamamoto-san tiba-tiba lari ke arah kami, sambil ngos-ngosan doi ngasih tahu bahwa tinggal saya dan istri aja yang belum balik ke bus, dan dari tadi doi udah muter-muter nyariin kami berdua. Gomenasai, Yamamoto-san! hahaha.

Setelah kami on board di bus, driver bus pun langsung tancap gas menuju Takayama. Sampai jumpa lagi Shirakawa-Go, it was a pleasure to meet you!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s