Akhirnya Sumba

Buat yang belum tau dimana Sumba, mungkin kalian belum nonton film Pendekar Tongkat Emas. Film ini rilis di tahun 2014, pemeran utamanya adalah Eva Celia, yang jadi alasan saya nonton film ini. Eitt, jadi salah fokus ke Eva Celia. Satu hal lagi yang bikin film ini menarik adalah lokasi syutingnya, yaitu di Sumba. Kalau kalian liat film ini, menurut saya buat film indonesia jaman itu (2014) sinematografinya udah keren banget, di film ini selain dikasih liat cerita filmnya yang ala kolosal dan adegan bela diri ala film action, kita juga disajikan pemandangan savanna dan perbukitan yang indah banget, yang ternyata ada di Sumba, NTT, Indonesia.

Review_Movie_Pendekar_Tongkat_Emas_Hadirkan_Kembali_Seni_Silat_03
eva celia di film pendekar tongkat emas

Karena saya termasuk orang yang suka banget sama gunung dan perbukitan, begitu nemuin pemandangan perbukitan berbaris yang keren banget di film itu, langsung muncul kalimat ini di kepala saya : “kapan ya gw bisa kesana??”

Perjalanan Dinas

3 tahun setelah rilisnya film Pendekar Tongkat Emas, tepatnya tahun 2017, saya dapat project di wilayah Waingapu, Sumba Timur. Dan saya harus survey lapangan kesana. Bukan main senengnya, bisa ke destinasi yang dipengenin dari dulu, dibayari kantor pula tiketnya!

Saya pun langsung menyusun strategi buat nambah cuti supaya bisa explore Sumba tanpa terganggu kerjaan. Tapi sayangnya cuma dapat cuti 1 hari.

Transportasi

Untuk bisa ke Sumba memang ga murah tiket pesawatnya, kalau dari Jakarta harus menempuh minimal 1 transit di Bali atau Kupang, setelah itu baru lanjut ke Bandara di Sumba. Ohiya, pulau sekecil Sumba ini punya 2 bandara komersil loh, yang pertama dan paling ramai adalah Bandar Udara Tambolaka di Waikabubak, Sumba Barat, dan bandara satu lagi namanya Bandar Udara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Sumba Timur.

Map of Sumba
peta sumba (gambar dari : https://sites.google.com/a/indonesiakomodo.com/tour-to-komodo-national-park-indonesia/sumba-island-travel-pasola-tour-operator-indonesia )

Preferensi bandara mana yang dituju untuk kedatangan tergantung kalian mau start explore Sumba dari mana, kalau mau start dari Timur silahkan pilih Bandara Umbu Mehang Kunda, kalau mau start dari Sumba Barat bisa pilih Bandara Tambolaka. Kalau saya lihat di kebanyakan Open Trip Sumba mereka start dari Tambolaka dan kepulangannya dari Umbu Mehang Kunda, karena memang di Sumba Bagian Barat terutama Sumba Barat Daya, lebih banyak tempat wisata terkenalnya, salah satunya Danau Weekuri.

Summary Tiket saya dan harganya saat saya ke Sumba pertama kali bisa dilihat dibawah ini :

Berangkat :

Surabaya – Denpasar ( Citilink ) = 781.000 IDR

Denpasar – Waingapu ( NAM Air) = 1.094.149 IDR

Pulang :

Waikabubak – Kupang – Surabaya (Wings – Sriwijaya) = 1.287.000 IDR

Jadi total tiket PP Surabaya – Sumba = 3.162.149 IDR

Mahal juga ya, kayanya sih karena saya beli tiketnya sangat mepet (H-1), namanya juga beli tiket buat dinas. Jadi harga total tiket saya jangan dijadikan patokan ya, bisa kok dapat harga lebih murah asal booking tiket dari jauh hari. Opsi termurah bisa pakai maskapai Singa Merah dan anak-anaknya, karena mereka punya penerbangan ke Sumba baik start Jakarta maupun Surabaya. Kalau untuk kota lain, bisa cek sendiri di aplikasi pemesanan tiket pesawat online di ponsel masing-masing ya.

Transportasi lokal di Sumba jauh dari kata tourist friendly, jangan berharap ada angkot, taksi atau ojek online di Sumba. Mungkin ada semacam travel atau bis antar kota, namun saat saya tanya teman saya yang penempatan di Waingapu pun dia nggak tahu, karena dia sehari-hari disana pakai motor pribadi. Pilihan yang ada cuma sewa mobil harian + driver, atau sewa motor. Tapi kalau mau explore Sumba dari Timur ke Barat, saya ga menyarankan untuk sewa motor. Pilihan saya waktu itu adalah sewa mobil. Sewa mobil di Sumba cukup mahal, dan harus dengan drivernya. Waktu ini saya dapat harga 700 ribu/hari sudah termasuk bensin, harga yang lumayan mahal, apalagi kalau 1 mobil cuma dibayar sendirian, untungnya saat saya di Sumba, 2 hari pertama di Waingapu saya diantar jemput dengan mobil kantor, dan diantar juga sampai ke Sumba Barat, jadi saya cuma sewa mobil selama 1 hari saja. Buat yang mau pake jasa sewa mobil yang saya gunakan waktu itu, bisa hubungi nomor ini : 0821-3112-8423 (Pak Andi). Pak Andi ini bisa kalian request untuk nganterin ke tempat wisata terkenal  manapun di Sumba Barat, tinggal pilih aja, doi tahu semua jalurnya. Kalian juga ga perlu nyediain makan untuk dia karena biaya 700 ribu itu sudah termasuk untuk Pak Andi beli makan sendiri.

1 Hari Free Time, bisa kemana aja di Sumba

Total hari saya di Sumba adalah 3 hari, 2 hari di Sumba Timur, 1 hari di Sumba Barat. Untuk di Sumba Timur juga kemakan waktu untuk kerja sekitar 1 hari dan setengah hari berikutnya, sisanya untuk perjalanan dari Sumba Timur ke Barat yang memakan waktu sekitar 3 jam. Dengan waktu yang terbatas itu, ini dia beberapa tempat yang sempat saya kunjungi :

Pantai Walakiri / Walakiri Beach

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
sunset di pantai walakiri

Ini merupakan pantai yang wajib kalian kunjungi saat sunset, pantai ini letaknya di Sumba Timur, dengan jarak sekitar 30 km di Timur Kota Waingapu. Sunset nya gokil banget, apalagi saat surut dan mangrove-mangrove kerdil yang banyak di pantai ini makin keliatan, menambah indah pemandangan sunset dengan siluetnya yang unik.

Bukit Wairinding

Bukit ini adalah bukit yang paling banyak di foto sama para instagrammer dan traveler masa kini. Meskipun sudah mainstream, tetep ga ngurangin cantiknya pemandangan Bukit Wairinding yang terletak di Sumba Timur ini. Hamparan barisan bukit savana yang seakan terbelah menjadi dua bagian, bertambah cantik dengan warnanya yang kekuningan saat musim kemarau, dan hijau saat musim penghujan.

Celoteh anak-anak Sumba yang sering bermain di atas bukit ini juga menambah seru suasana saat asyik berbengong ria memandangi Bukit ini. Bukit Wairinding berjarak sekitar 25 km ke arah Barat dari pusat Kota Waingapu, dengan jalan yang ditempuh sangat berliku-liku kaya huruf S khas Jalur Trans Sumba. Patokan untuk mencapai bukit ini adalah warung dengan atap warna biru di pinggir jalan, dari warung itu tinggal jalan kaki kira-kira 5-10 menit untuk sampai ke Bukit Wairinding.

Bukit Raksasa Tertidur

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Bukit Raksasa Tidur

Bukit ini memang ga se-hype Bukit Wairinding tapi boleh lah dikunjungi juga, karena bukit ini pasti dilewati saat perjalanan dari Kota Waingapu ke Bukit Wairinding. Letaknya persis di pinggir jalan raya. Yang bikin unik dari bukit ini adalah, seperti namanya, bentuknya menyerupai sosok manusia bertubuh besar yang sedang tertidur. Keliatan ga?

Pantai Kita / Pantai Mananga Aba

Pantai ini sebenernya ga terlalu terkenal, tapi pada saat saya baru sampai di Sumba Barat, karena bingung mau ngapain dan diam di kamar hotel juga bosan, saya akhirnya minta antar sama orang hotel ke pantai terdekat pakai sepeda motor. Dan diantarlah saya ke pantai ini, yang ternyata ga dekat-dekat banget sama hotel, jaraknya sekitar 12 km dari hotel tempat saya menginap, Hotel Sinar Tambolaka di Kota Waikabubak. Perjalanan terasa makin jauh karena saya kena ban bocor sampai 2 kali dan akibatnya harus jalan kaki hampir 3 km karena susah nyari tambal ban. Akses jalannya untuk ke dalam pantai masih jalan tanah kecil dan sepi, alhasil begitu ketemu tukang tambal ban, dia langsung nembak harga tinggi karena tau kita ga ada pilihan lain. Setelah drama tambal ban yang super mahal (dan abis ditambal pun bocor lagi pas jalan pulang ke hotel), akhirnya saya sampai di Pantai Kita atau nama Sumba-nya Pantai Mananga Aba. Pantai nya memang ga terlalu bersih, tapi pasirnya yang putih dan warna air laut yang berwarna biru jernih membuat pemandangannya cukup oke. Di pantai ini ternyata ada semacam Hotel resort, letaknya persis di pinggir Pantai. Namanya Hotel Mario.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
pantai kita atau pantai mananga aba

Desa Adat Ratenggaro & Pantai Ratenggaro

Desa Adat Ratenggaro terletak di Kodi, Sumba Barat Daya. Untuk masuk ke dalam pintu Desa Adat harus melalui jalan kecil (hanya muat 1 mobil). Tapi saya kurang beruntung saat kesana, karena lagi sepi banget dan kayaknya cuma saya wisatawan yang berkunjung saat itu, singkat cerita waktu saya lagi motret-motret di pantainya, saya langsung dikerubutin sama sekitar 12 orang dari Desa Adat yang nawarin beli barang (pernak pernik, kalung, dll) dan juga nawarin naik kuda.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
bocah pertama yang ngikutin terus nawarin naik kuda, abis itu serombongan dateng

Gaya nawarin mereka bukan seperti jualan, tapi lebih kayak nodong, berulang kali saya bilang “Nanti dulu ya, saya lagi motret” tapi mereka semua tetap ngikutin kemana saya bergeser sambil terus nyodorin barang jualannya ke saya, mungkin sebagian ga ngerti bahasa Indonesia kali ya.  Dengan para warga native Desa yang terus nempelin kemana saya pergi, saya dan Pak Andi udah mulai ga nyaman, kami pun akhirnya memilih untuk melengos dan lanjut ke destinasi selanjutnya. Takutnya mereka keburu kesel karena kami ga beli-beli jualan mereka, kami berdua ga jago-jago amat bela diri, berantem lawan 2 orang pun belum tentu menang, apalagi lawan 12 orang :D. Dan saya jadi ga sempet masuk ke Desa Adatnya, cuma sampai pantainya aja.

Pantai Pero

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
pantai pero

Pantai Pero ini terletak persis di belakang desa yang mayoritasnya muslim di Sumba Barat Daya, namanya Desa Pero Kodi. Pak Andi bilang Pantai Pero ini salah satu tempat favorit untuk menikmati sunset di Sumba Barat Daya. Tapi sayangnya karena saya waktu itu cuma punya waktu satu hari untuk mengunjungi banyak tempat dan saya masih pengen ngeliat destinasi lainnya di Sumba Barat ini, jadinya saya cuma singgah sebentar saja dan ga sempet nyobain sunset-an disini. Selain sunset-nya, pantai ini juga terkenal karena ombaknya yang besar, sehingga banyak wisatawan asing yang sengaja datang kesini untuk surfing.

Pantai Mandorak

Ini salah satu pantai terbagus yang saya kunjungi di Sumba, dengan pantai yang kecil, air laut di pantai ini masuk melalui 2 gugusan karang yang saling berhadapan di pinggir laut, jadi pemandangannya unik banget.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
pantai mandorak

Selain itu juga kita bisa explore tebing-tebing di sisi barat daya pantai ini dan dengan berjalan kaki sekitar 10 menit menyusuri tebing-tebing pinggir laut itu kita bisa menemukan pantai lain yang garis pantainya lebih panjang, dan ga kalah indahnya. Saya gatau nama pantainya apakah termasuk pantai mandorak juga. Lautnya berwarna hijau tosca dengan pasir putih yang masih bersih banget.

Waktu saya kesana bener-bener cuma saya pengunjung di pantai ini dan ga ada pengunjung lain, saya cuma ketemu seorang bapak warga lokal yang lagi mancing di salah satu tebing pinggir pantai dan satu orang anak nelayan sedang terlihat membersihkan kapalnya, kapal-kapal nelayan lainnya yang disandarkan di pantai ini ga ada yang berpenghuni. Jadi berasa private beach! Ohiya untuk masuk pantai ini tinggal kasih uang seikhlasnya saja buat warga yang jagain di pos penjaga depan. Untuk aksesnya sendiri kalau saya baca blog-blog yang ngepost di sekitar 2017-an disebutin kalau mau kesini harus jalan kaki sekitar 1 km, tapi saat saya kesana sudah bisa masuk mobil sampai pos penjaga kok, sepertinya aksesnya sudah mulai diperbaiki karena sudah mulai banyak wisatawan yang kesini.

Danau Weekuri

Meskipun namanya Danau, tapi Danau Weekuri ini airnya payau karena berasal dari air laut. Danau Weekuri bisa dibilang adalah sebuah lagoon yang terbentuk dari air yang masuk melalui celah karang yang dari laut yang berada tepat di belakang danau ini. Untuk masuk ke danau weekuri cukup bayar uang kebersihan saja sekitar 20rb (waktu itu). Di sekitar danau ada beberapa warga lokal yang berjualan kain khas Sumba, tapi harganya cukup mahal, 200 ribuan untuk kain yang menurut saya kualitasnya biasa saja. Sama seperti saat saya ke Pantai Mandorak, selain warga lokal dan anak-anak desa sekitar yang berenang, waktu itu cuma saya pengunjung disana. Karena Weekuri ini adalah destinasi terakhir saya di Sumba, dan air lagoon dengan warna hijau tosca yang jernih banget ini terlalu bagus untuk saya lewatkan cuma dengan foto-foto, saya pun menyempatkan diri untuk berenang disini bersama anak-anak lokal sambil mengambil video mereka berlompatan dari papan loncat tradisional yang ada di Danau ini. Saya pun jadi tertantang untuk mencoba lompat juga!

paragraph-clipart-th-Horizontal-separator-
Itulah kira-kira tempat-tempat yang bisa dikunjungi di Sumba dengan waktu yang sangat singkat, kurang dari 2 hari. Dan kesimpulannya, ternyata selain bukit-bukit indah seperti di film Pendekar Tongkat Emas, di Sumba banyak sekali pantai-pantai yang bagus! Selain itu masih banyak tempat-tempat menarik lainnya di Sumba, seperti Air Terjun Lapopu dan juga masih banyak Padang Savanna dan pantai-pantai indah lain yang masih belum sempat saya kunjungi karena keterbatasan waktu. Saran saya, minimal sediakan waktu 5 hari kalau mau bisa nikmatin Sumba dengan santai dan syahdu tanpa ngelewatin satu pun destinasi terbaik disana.

Sekalian dulu ya tulisan kali ini, semoga bisa jadi inspirasi dan informasi yang bermanfaat buat teman-teman yang mau ke Sumba. Kalau ada yang mau ditanyakan tentang Sumba bisa langsung ditulis di kolom komentar.

Thanks and Cheers!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s